Agen Judi Bola Online Resmi Sbobet MAXBET dan Sabung Ayam Uang Asli

Sindiran Lucu!!! Pak Jokowi, Saya dan Pak Fadli Zon Lelah Dengan Pencitraan Bapak

Benderapoker

Sindiran Lucu!!! Pak Jokowi, Saya dan Pak Fadli Zon Lelah Dengan Pencitraan Bapak – Sudah hampir 2 tahun Jokowi menjadi nahkoda bagi kapal yang bernama NKRI. Sosok Jokowi yang fenomenal membuat banyak pihak tertarik untuk menilai pemerintahan Jokowi JK sepanjang tahun 2014-2016 ini. Salah satu tokoh yang menyoroti kinerja eksekutif di bawah naungan Presiden Jokowi tidak lain adalah Fadli Zon yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI.

Fadli Zon berpendapat bahwa pemerintahan Jokowi JK hanyalah pemerintahan yang penuh dengan pencitraan. Bahkan Fadli menghimbau supaya Presiden berhenti melakukan yang namanya pencitraan. Presiden harusnya fokus pada hasil kerja bukan pada slogan “kerja, kerja dan kerja.” Bahkan menurut Fadli, kebijakan Jokowi menurunkan BBM di Papua sampai angka 6000an merupakan pencitraan.

Pak Jokowi, saya sependapat dengan Pak Fadli Zon dalam hal ini. Saya dan Pak Fadli sangat lelah dengan pencitraan yang bapak sudah lakukan dalam 2 tahun terakhir. Berikut akan saya paparkan pencitraan-pencitraan yang Pak Jokowi buat sampai kami merasa lelah.

Katanya Pak Jokowi mau meningkatkan ekonomi yang terpuruk, tapi nyatanya…

Krisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2008 membuat ekonomi di berbagai negara termasuk Indonesia menjadi anjlok. Perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi tak bisa dibendung sejak tahun 2012. Sejak Pak Jokowi dilantik menjadi presiden, ekonomi memang sempat menurun. Tapi pada tengah tahun pertama 2016, ekonomi tidak hanya mengalami peningkatan, bahkan naik sampai mencapai level 5,04% (sumber: Keterangan Kepala Kantor Staf Presiden).

Saya yakin ini pasti ulah pencitraan Pak Jokowi yang ingin membuat kesan seolah-olah ekonomi membaik. Padahal, tidak hanya membaik, tapi tumbuh pesat. Benar memang kata pak Fadli Zon, jarang ada yang merasakan perbaikan di bidang ekonomi secara langsung.

Saya setuju sama Pak Fadli Zon, perbaikan ekonomi seharusnya dirasakan oleh pejabat-pejabat untuk jalan-jalan ke luar negeri dan foya-foya. Bukannya menaikan pertumbuhan ekonomi demi kebaikan rakyat banyak. Ah, Pak Jokowi gimana sih?

Bapak Jokowi bisanya cuma membuat kebijakan tax amnesty. Ini jelas merugikan orang-orang super kaya yang menyembunyikan harta kekayaannya di negara-negara yang merupakan surga bebas pajak. Begitu kebijakan ini Bapak sahkan, mau tidak mau para konglomerat itu harus melaporkan semua simpanannya daripada merugi.

Apa jadinya? Ya pemasukan buat APBN semakin meningkatlah. Kementerian Keuangan sampai bilang kalau peningkatan anggaran karena tax amnesty membuat APBN 2017-2018 aman. Ini pasti trik supaya Pak Jokowi dikatakan hebat.

Harusnya kan dibiarkan saja supaya Pak Jokowi disayang sama orang-orang kaya, jadi Bapak punya lahan pemilih dari kalangan konglomerat kalau bapak maju lagi di pilihan presiden selanjutnya. Mereka pasti bisa bantu Bapak kalau begitu. Eh, Pak Jokowi nggak mikirin itu ya? Bapak lebih memilih dibenci sama Singapura dan kalangan konglomerat demi menambah pundi-pundi pemasukan APBN. Saya yakin ini pencitraan.

Saya juga setuju dengan Pak Fadli Zon yang bilang kalau keputusan Bapak menghapus pungli hanya demi pencitraan. Saya semakin yakin kalau Bapak bukan pemimpin yang layak disenangi sama anak buah. Pungutan liar itu budaya, Pak. Dan sebagaimana layaknya sebuah budaya, Pungli harus dilestarikan.

Tapi apa yang Bapak lakukan? Bapak malah menghapus Pungli yang menjadi sampingan banyak lembaga pemerintahan, mulai kelas teri sampai kelas kakap.

Memangnya pungli cuma ada di pemerintahan Bapak saja? Tidak, Pak. Ini sudah tradisi turun temurun. Mungkin pemimpin-pemimpin sebelum Bapak tidak peduli dan membiarkan pungli dilakukan. Tapi Pak Jokowi malah ikut campur.

Bapak benar-benar tidak mempedulikan perasaan si penerima pungli. Apa alasan Bapak menghentikan pungutan liar ini? Supaya tidak ada penghambat laju ekonomi, katanya. Supaya bisnis semakin efisien dan kompetitif. Ah, lagi-lagi pencitraan.

Terus soal kesehatan dan pendidikan, Pak. Ini Pak Fadli Zon sempat bertanya. Mana, katanya Presiden janji mau bikin 50.000 puskesmas, mana janjinya?

Iya, mana Pak buktinya? Saya melihat lagi data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan, katanya Bapak berhasil meningkatkan anggaran kesehatan dari Rp 60 T jadi Rp 104 T, naik Rp 44 T. Cuma 44 T, Pak naiknya. Sedikit kan? Mana Puskesmas yang katanya mau dibangun sejumlah 50.000 itu? Wah, maaf, Pak, saya lupa kalau membangun Puskesmas butuh kenaikan anggaran buat kesehatan.

Untuk pendidikan, katanya Bapak mau membangun sekolah-sekolah di tempat terpencil? Mana buktinya? Eh, lagi-lagi saya mengantongi data kalau Bapak berhasil menaikkan anggaran pendidikan dari Rp 375,4 T pada tahun 2014 menjadi Rp 416,6 T di tahun 2016.

Sudah dibangun belum sekolah-sekolahnya? Aduh, lagi-lagi saya lupa kalau membangun itu juga membutuhkan dana dan kenaikan anggaran untuk pendidikan ya, Pak.

Pak Fadli Zon juga tanya sama Bapak, mana janji mau membuat Pertamina lebih hebat daripada Petronas? Bapak malah membuat Pertamina merugi Rp 800 miliar per tahun karena menurunkan harga BBM di Papua yang semula Rp 100 ribu menjadi Rp 6 ribu saja. Bapak malah suruh pertamina kreatif mencari sumber subsidi silang untuk menekan kerugian ini. Mana bisa kreativitas Pertamina menjadikannya lebih hebat dari Petronas?

Pak Jokowi sih lebih mementingkan rakyat Papua sampai membuat kebijakan tidak populer. Harusnya kan Bapak lebih memihak Pertamina. Masa bodoh dengan rakyat Papua. Biarkan saja mereka terus mengeluhkan harga BBM sampai ratusan ribu. Peduli apa dengan perkembangan ekonomi di Papua? Kan lebih penting nama Bapak?

Terakhir yang Pak Fadli Zon soroti adalah soal politik. Kehidupan perpolitikan zaman Pak Jokowi tidak sehat. Banyak parpol yang dipecah-belah dan diintervensi oleh pemerintah sehingga tidak lagi demokratis.

Kalau ini saya setuju sekali dengan Pak Fadli Zon. Bapak tahu tidak, kinerja dan popularitas Bapak di mata rakyat membuat parpol yang dulu kukuh dalam koalisi oposisi pemerintahan Bapak jadi pecah belah. Satu per satu mereka mendekati Bapak dan meninggalkan tempat lamanya. Padahal dulu koalisi ini lebih kuat daripada koalisi yang Bapak bangun. Tapi lihat sekarang, Pak. Gara-gara Pak Jokowi, mereka tidak lagi kompak seperti dulu. Anda sungguh tega, Pak.

Berhenti saja melakukan pencitraan, Pak Jokowi.

Saya lelah dengan pencitraan Pak Jokowi yang membuat Indonesia lebih baik.

Saya lelah dengan pencitraan Pak Jokowi yang tidak pro terhadap para mafia ekonomi.

Saya lelah dengan pencitraan Pak Jokowi yang lebih memihak rakyat kecil.

Saya lelah dengan pencitraan Pak Jokowi yang membangun infrastruktur di Indonesia menjadi kian pesat.

nontonfilm21.co

Dari: Rakyat yang tidak pernah kerja tapi banyak bicara.

Facebook Comments

Recent search terms:

  • https://republiknkri com/2016/10/21/sindiran-lucu-pak-jokowi-saya-dan-pak-fadli-zon-lelah-dengan-pencitraan-bapak/
  • sindiran lucu pak jokowi saya dan
  • sindiran pencitraan
Agen Judi Bola Online Resmi Sbobet MAXBET dan Sabung Ayam Uang Asli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*