Agen Judi Bola Online Resmi Sbobet MAXBET dan Sabung Ayam Uang Asli

7 Jerat Hukum Yang Di lewati Setya Novanto dengan Kongkalikong (Catch Me if You Can!)

Kasus Cessie Bank Bali (1999)

Kasus ini bermula dari sang pemilik bank Bali, Rudy Ramli mengalami kesulitan menagih piutangnya yang tertanam di brankas Bank Dagang Nasional Indonesia, Bank Umum Nasional, dan juga Bank Tiara pada tahun 1997. Total tagihan 3 triliun tersebut tidak dapat dibayar oleh ketiga bank tersebut, sehingga masuk dalam perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Kemudian Rudy menyewa jasa PT Era Giat Prima. Pada perusahaan ini Joko Tjandra menjabat sebagai direktur dan Setya Novanto sebagai direktur utama. Dengan fee sebesar 50% dari uang yang berhasil ditagih.

Karena fee yang dianggap tidak wajar inilah kemudian kasus ini berlanjut ke pengadilan. Kasus cessie Bank Bali ini hanya menjerat Joko Tjandra, Pande Lubis (Wakil Ketua BPPN) dan Syahril Sabirin (Gubernur BI), sedangkan Setya Novanto lolos.

Kasus Beras Impor Vietnam Ilegal (2003)

Setya Novanto sempat diperiksa oleh KPK selama 10 jam sebagai saksi atas tersangka Direktur Utama PT Hexama Finindo Gordianus Setyo Lelono dan mantan Direktur Penyidikan dan Penindakan Dirjen Bea Cukai Sofyan Permana. Setya Novanto diperiksa sebagai saksi dalam perkara impor ilegal 60 ribu ton beras dari Vietnam yang merugikan negara sebesar Rp 122,5 miliar. Untuk kasus ini pun Setya Novanto tidak terjerat oleh hukum.

Kasus Limbah Beracun B3 di Pulau Galang, Kepulauan Riau (2006)

Tahun 2006 lebih dari 1000 ton limbah beracun yang berasal dari Singapura mendarat di Pulau Galang, Batam. Uji Laboratorium Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) mengungkapkan bahwa limbah yang disamarkan sebagai pupuk organik tersebut mengandung tiga jenis radioaktif sepert Thorium 228, Radium 226, dan Radium 228 dengan kadar 100 kali lipat di atas batas normal. Perusahaan yang mengimpor tersebut adalah PT. Asia Pasific Eco Lestari (APEL) yang dimiliki oleh Setya Novanto.

Untuk kasus ini pun Setya Novanto lolos dari jeratan hukum, hanya Rudi Alfonso yang menjalankan PT. APEL di Batam yang dihukum selama 6 bulan penjara oleh PN Batam.

Kasus korupsi PON Riau (2012)

Proyek pembangunan sarana dan prasarana PON 2012 yang melibatkan Gubernur Riau Rusli Zainal ini pun sempat menyeret nama Setya Novanto. Karena Setya Novanto diketahui pernah ditemui oleh Rusli Zainal terkait pembangunan sarana dan prasarana PON 2012. Kemudian Setya Novanto diperiksa oleh KPK pada tahun 2013 sebagai saksi terkait korupsi pengadaan PON 2012 dengan tersangka Rusli Zainal.

Lagi-lagi Setya Novanto lolos dari jeratan hukum untuk kasus ini.

Muncul di Kampanye Donald Trump (2015)

Kasus berikutnya yang menjadi perhatian publik adalah ketika Setya Novanto muncul pada kampanye Donald Trump pada tahun 2015 bersama dengan Fadli Zon. Pada kasus ini MKD memutuskan bahwa Setya Novanto telah melanggar kode etik ringan lantaran menghadiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tahun 2015 silam. Padahal saat itu Setya Novanto adalah seorang Ketua DPR.

Kasus Papa Minta Saham (2015)

Kasus yang cukup ramai adalah pada saat Setya Novanto terlibat dalam kasus papa minta saham. Nama Setya Novanto kembali mencuat ketika Freeport akan kembali memperpanjang kontraknya di Indonesia. Setya Novanto disebut meminta saham PT Freeport Indonesia sebesar 20 persen dan meminta jatah 49 persen saham proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka, Papua pada Freeport.

Kasus ini mencuat ke permukaan karena Menteri ESDM kala itu Sudirman Said melaporkan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas kasus tersebut.

Kasus dugaan korupsi E-KTP (2017)

Kasus yang paling akhir adalah kasus yang paling heboh. Yaitu kasus dugaan korupsi proyek e-KTP yang melibatkan Setya Novanto. Walau pun KPK telah menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka, tetapi Setya Novanto tetap bisa bebas dari tuduhan tersebut. Lewat praperadilan yang dipimpin oleh Cepi Iskandar, Pengadilan membatalkan status tersangka Setya Novanto pada kasus dugaan korupsi e-KTP.

Berbagai kasus yang melibatkan Setya Novanto dan tak ada satu pun yang membuat Setya Novanto harus mendekam di penjara. Semuanya lolos. Entah karena begitu lihainya Setya Novanto bernegosiasi ataukah karena ada fulus dibelakangnya, sehingga Setya Novanto bisa dengan leluasa mentertawakan hukum di Indonesia.

Akhirnya Setya Novanto pun dengan nyaring berucap, catch me if you can! Tangkap Daku Kau Kujitak!

HUKUM NEGARA INI DI ANGGAP APA YA SAMA BAPAK SETYA NOVANTO ?

SAMSUNGBOLA

Saya kira demikian saja…..

Facebook Comments

Agen Judi Bola Online Resmi Sbobet MAXBET dan Sabung Ayam Uang Asli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*